‚ÄčKebijakan transportasi online, apakah sebuah solusi?

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel online di LINE tentang berita yang mengetengahkan topik bahwa kelak tarif taksi online yang akan naik per 1 April 2017. Beberapa pertanyaan seketika muncul dalam pikiranku:  
1) Mencakup semua transportasi online-kah?

2) Ojek online juga atau taksi online saja?

3) Yakin kalau kebijakan tersebut akan menjadi solusi? Solusi bagi siapa? Pengusaha angkot konvensional, angkot online, atau konsumen? Atau ketiganya?

4) Sudahkah para pemangku kebijakan, para pengusaha transportasi online dan transportasi konvensional merasakan menjadi konsumen transportasi publik? Atau hanya duduk manis di kendaraannya saja sembari mereka-reka realitas di lapangan?
Berikut ini pendapat/opiniku terkait kebijakan tersebut (daku melihat dari kacamata sebagai konsumen transportasi online dan konvensional selama puluhan tahun)
Disadari atau tidak, saat ini kita memang telah memasuki era ‘flat world’ (menurut Tapscott) dan era conceptual age (menurut Daniel Pink), dan mau tidak mau semua bidang kehidupan akan mengalaminya. Namun saat ini, bidang transportasi yang menjadi sorotan. Kukira awalnya regulasi yang digodok beberapa waktu yang lalu (I knew little bit proses perancangan regulasi mulai dari rapat-rapat kecil hingga uji publik meski dalam ranah bidang yang berbeda dan bagaimana sulitnya menyatukan pemikiran yang berbeda dari berbagai para ahli dan elemen govt ) bakal berujung ke win-win solution ,baik secara teknologi, inovasi, ekonomi, maupun transportasi. Namun saat membaca artikel tsb, spontan daku sedikit kecewa. Masak siy nggak ada regulasi yang terintegrasi, solutif, dan kreatif? Apa iya kominfo, kemenhub, YLKI, etc tidak bisa duduk bareng menghasilkan regulasi solutif yang inovatif dan kreatif? Dengan menaikkan tarif angkutan, dalam konteks ini adalah taksi online, maka dampaknya adalah inovasi hanya dapat dinikmati oleh masyarakat kelas atas, tidak memasyarakat hingga masyarakat menengah ke bawah. Di samping itu, akan muncul stigma bahwa govt saat ini kurang mendukung inovasi karya anak bangsa. Lupakah mereka siapa yang menjadi trendsetter transportasi online di Indonesia? Bukan brand-brand/ merek transportasi online luar negeri seperti uber ataupun grab, tetapi go jek. Lantas dengan konsep kemitraannya yang turut memberdayakan para pengangguran maupun masyarakat kelas bawah, serta menjadi salah satu solusi transportasi online bagi yang butuh transportasi murah (misal lagi cekak), maka dengan munculnya regulasi tersebut kelak seketika pabila beneran jadi mahal, pupus sudah cita-cita ‘ inovasi aseli indonesia yang merakyat.’ Apa mungkin indonesia emang govt dan rakyatnya nggak ingin menjadi negara maju kelak? Inovasi yang merakyat kok dihambat.

Mungkin banyak yang akan tidak sependapat dengan saya, it’s up to you all. Sedari kecil saya terbiasa naik transportasi publik dan angkot, mulai dari becak, bemo, mikrolet, bus, metromini, dsb. Kala transjakarta baru muncul ( baik versi karcis maupun kartu), saya juga tetap menggunakan transportasi publik lainnya. Saat transportasi online juga baru hadir di tengah masyarakat, saya juga menggunakannya di kala belum ngetrend. Namun tetap pada pola saya dalam bertransportasi, mengintegrasikan semuanya baik secara konvensional, teknologi, dan online. Kalau lagi cekak, saya prefer menggunakan transportasi online, kalo lagi dalam rute biasa yang saya lewati dari kecil, saya prefer menggunakan angkot, bahkan kalau dekat lebih suka jalan kaki.

Terkadang saya juga nebeng dengan kendaraan teman jikalau sudah tidak ada angkot, daerah tidak dilewati angkot, etc. Bagi saya kehadiran transportasi online memudahkan saya untuk mencari alamat kala saya hendak mengunjungi rumah teman/dsb yang daerahnya belum pernah/jarang saya datangi/unfamiliar. Namun juga jika rumahnya jauh, maka solusi transportasi yang saya pilih:

1) stasiun-go jek pulangnya kadang angkot ke stasiun

2) buswey (transjakarta)-go jek pulangnya kadang naik angkot ke halte busway

3) angkot-buswey

4) angkot/metro mini -stasiun (kreata)-angkot/gojek

5) taxi, kalau sudah capek atau tidak ada angkot-buswey

Jadi kaget aja saat mendengar bakal ada kebijakan baru yang akan menaikkan harga taxi online (ojek online juga nggak?). Kok kayaknya indonesia nggak siap ama inovasi yang merakyat ya? Atau emang nggak berubah dari dulu hingga kini? Inovasi aseli indonesia tidak bisa jadi tuan di negeri sendiri dan cuma bisa dirasakan oleh kalangan atas? Apa memang tidak ada regulasi yang solutif dan kreatif? Harus anak kemaren sore, yang dianggap anak kecil dan gila yang harus memberi contoh?
Solusi tentang masalah transportsi online versiku;

1)Kolaborasi

2) Buat paket transportasi terintegrasi (angkot + ojek/taxi online)

kena charge totalnya berapa untuk rute kemana gitu ( buat sistem karcis)

 (buswe + ojek/taxi online) =_______________

(kereta + ojek/taxi online) =________________

3) Buatlah regulasi jam-jam tertentu buswe/kereta gak boleh penuh, jam-jam tertentu kendaraan pribadi baru boleh keluar bagi yang ngantor, ke pasar, etc diluar itu harus gunakan transportasi publik (sedikit pengalaman saat dahulu sebentar di Inggris)

4) Buat regulasi jam-jam tertentu kereta commuter line nggak boleh penuh, kalo tetap penuh ubah strategi dengan regulasi menggandeng industri yaitu adakan games/promo untuk ditukar dengan discount, etc jika men-snapshot QR code yang tertempel di halte busway tertentu pada jam-jam penuh atau strategi lainnya.

Tentang euforia pilkada dkijaya, bagiku sudah lewat. Toh rata-rata kebanyakan hanya memberi janji (biasalah zaman lagi mo dipilih, yang jualan program dan branding lha semuanya).. Namun yakin yang naik mobil/motor pribadi bakal mau rajin naik angkot? Namun yakin transjakarta yang sekarang udah ok itu hasil karya yang era sekarang/leader beberapa tahun ini yang memimpin jakarta? Prototype-nya (ujicobanya) sejak zaman pak Fokke. Sekarang aja baru trend. Kartu jakcard saya sejak zaman uji coba tersebut, manakala kala itu hanya beroperasi di halte busway sekitar H.R.Rasuna Said.

So sekali-sekali buatlah regulasi solutif yang inovatif dan kreatif. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada Bapak/Ibu semua yang mengurusi kebijakan serta para stakeholder, sepatutnya kita semua bertanya: membuat regulasi untuk apa? Apakah benar-benar untuk melindungi masyarakat, membantu masyarakat, dan mengatur massyarakat dan memfasilitasinya Sudahkah para pemangku kebijakan ataupun para stakeholder yang merasa terancam industrinya takut tidak dapat berkembang karena hal tersebut, merasakan sendiri pengalaman menggunakan transportasi publik, baik online, offline, digital, konvensional Atau kebijakan disusun hanya untuk mereka-reka dan berdasar pada kepentingan tertentu semata Kita kini hidup di zaman yang berbeda dengan dahulu tetapi bukan berarti harus pro dengan yang trend saat ini lalu melupakan yang konvensional ataupun sebaliknya. Justru bagaimana menyeimbangkan keduanya sesuai dengan kebutuhan. Dan selaiknya justru bangga kalau inisiasi/tren setter awal transportasi online produknya seli indonesia, baru kemudian diikuti oleh brand-brand yang lain. 
 

   

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *